Learning the past Managing the present Shaping the future

Latest Posts

Rabu, 26 Juli 2017

Sharp Dangerous Triple (S)kills

Berangkat daripada asumsi sebelumnya, bahwa output dasar bagi setiap mahasiswa adalah dapat menjadi problem solver bagi masyarakatnya. Adapun setidaknya nilai-nilai standar yang biasa dijadikan patokan ialah Tridharma PT. yang terdiri atas pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kiranya seseorang dapat menilai secara objektif dan menyeluruh pastinya tidak akan terjadi sentimen negatif diantara blok-blok mahasiswa.
Patut kiranya mahasiswa teknik planologi dapat insentif. Atau minimal stimulus penunjang perkembangan mental dan akademik. Lewat pendekatan pemampatan empat tahun, kita bisa memiliki 250% modal awal bahkan lebih. Hal ini bukanlah tanpa alasan, setidaknya ada tiga hal fundamental yang dapat menjadi ujung tombak mahasiswa teknik planologi dalam memperoleh segala kapasitasnya. Sesuatu yang barangkali tidak didapatkan di program lain, atau kurang tertajamkan.
sumber : https://adiprabowo31.blogspot.co.id/2014/09/hubungan-manajemen-dan-organisasi.html
Pertama, kemampuan manajerial. Management is the organizational process that includes strategic planning, setting; objectives, managing resources, deploying the human and financial assets needed to achieve objectives, and measuring results atau secara singkat dapat diartikan sebagai proses mencapai tujuan organisasi dengan bekerja dengan dan melalui orang-orang dan sumber daya organisasi lainnya. Proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang baik mikro maupun makro mustahil dilakukan bila kemampuan ini minim. Skill inilah yang membuat lulusan teknik ini dapat versatile di berbagai hal.
The planologist harus mengetahui secara terstruktur mulai dari tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah mikro, berlanjut ke sistem perkotaan nasional yang terkait dengan kawasan perdesaan/perkotaan dalam wilayah pelayanannya dan sistem jaringan prasarana utama hingga menyelidiki indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional, arahan perizinan, arahan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi bagi pelanggar yang tentu membutuhkan multidisiplin ilmu. Dan setiap kepala planologist memiliki andil, tanggung jawab serta potensi besar untuk mengelola dan menyelesaikan masalah-masalah urban secara kontekstual, tentu dengan segala pertimbangan epistemologi yang ada.
Skill manajerial mutlak diperlukan bagi segala jenis planner, apalagi kita yang harus siap tempur dengan kondisi manajerial mikro maupun makro. Sejarah telah berbicara mengenai negara yang menguasai sistem manajemen, dia akan unggul lebih dahulu daripada yang tidak menguasai. Menyediakan lahan untuk pengembangan hunian dan kebutuhan masyarakat dengan kepadatan dan tipe yang bervariasi di seluruh wilayah kota tentu merupakan kolaborasi multidisiplin ilmu. Sistem manajemen setidaknya dapat menyediakan ruang hunian yang sehat, nyaman, selamat, aman dan asri sesuai dengan ragam kepadatan dan tipe hunian yang dikembangkan.
Beruntungnya kita, sebagai salah satu putra-putri yang berkesempatan untuk mengetahui kemampuan ini lebih lanjut lewat pembiasaan dan lingkungan belajar yang mendukung. Mengetahui sistem luar dan dalam, mempelajari suatu struktur proses dari awal hingga akhir lalu merumuskan alternatif solusi terbaik dari berbagai macam permasalahan yang kompleks.
Sumber : https://www.lynda.com/Business-Skills-tutorials/Managing-Project-Communication/149841-2.html
Kedua, skill wajib yang akan tersematkan kepada The Planologist adalah kemampuan komunikasi, Communication is two-way process of reaching mutual understanding, in which participants not only exchange (encode-decode) information, news, ideas and feelings but also create and share meaning. Dalam artian singkat dapat diartikan sebagai kemampuan dasar untuk dapat memperoleh sintesis pengertian antara dua personal atau lebih dan memberikan makna sesuai maksud yang tepat.
Sumber : http://slideplayer.com/slide/6408767/
Kemampuan ini bukanlah tanpa alasan, Penelitian telah membuktikan bahwa kemampuan berkomunikasi adalah elemen utama yang menjadi pertimbangan penyedia pekerjaan menerima karyawannya. Bahkan IPK terlampau jauh dari penilaian. Komunikasi merujuk pada bagaimana orang saling berbagi pandangan dan pikiran dengan orang lain.Tidak hanya itu, kemampuan berkomunikasi yang baik juga dapat mengubah hidup seseorang.
Komunikasi yang baik dapat menjamin adanya pertukaran pikiran dan pandangan yang benar serta terjadinya konsensus dalam persepsi sehingga tidak terjadi kebingungan. Jika sebuah hal tidak dikomunikasikan dengan baik, maka orang akan sulit mengerti. Jika dibiarkan, masalah pun akan timbul sebagai dampaknya. Keluarga dan organisasi tentu akan hancur bila antar personal tidak mengindahkan pentingnya komunikasi.
Setiap pekerjaan dan kebutuhan interaksi tentu membutuhkan komunikasi. Bukan hanya berfungsi untuk menjalin dan menghubungkan satu orang dengan yang lainnya, komunikasi juga berperan penting dalam sebuah perencanaan, koordinasi, dan informasi baik temporar maupun berkelanjutan. Komunikasi yang efektif dan efisien dapat menginspirasi banyak orang untuk memperjuangkan dan mengikuti sesuatu. Karenanya, komunikasi adalah sesuatu yang bertanggung jawab untuk mengubah hidup banyak orang namun harus dilakukan secara efektif dan efisien.
Hal tersebut diajarkan sepenuhnya disini, bahkan tiap harinya dituntut untuk dapat menyampaikan sesuatu secara efektif dan efisien. Memilih setiap diksi dengan berbagai pertimbangan, serta menerjemahkan makna penyampaian orang lain dengan tepat. Setiap kajiannya menarik inspirasi dari berbagai sudut pandang. Setiap publikasinya menuntut setiap kru untuk berpikir mendalam terkait maksud yang ingin disampaikan. Menjadikan lulusan teknik planologi siap terjun di berbagai bidang karir.
Sumber : https://akshayanatesh.wordpress.com/author/akshayanatesh/
Ketiga, kemampuan mengonsep, Concepting is functioning as a prototype or model of new product or innovation with using an idea of something formed by mentally combining all its characteristics or particulars a directly conceivedor intuited object of thought.Begitulah, mengonsep adalah proses untuk menciptakan prototipe atau model produk atau inovasi baru dengan menggunakan gagasan tentang sesuatu yang dibentuk oleh kombinasi mental serta semua karakteristik baik umum maupun spesifiknya yang secara langsung dikandung atau diintipkan objek pemikiran. Berbicara tentang logika dan epistemologi, mungkin tidak dapat secara langsung dirasakan secara instan perbedaannya, namun konsekuensi logis menimba ilmu di kampus ini saja sebenarnya sudah dihadapkan dengan kemampuan memetakan permasalahan, potensi, alternatif solusi serta peluang pengembangan.
Meruncing ke Labtek IX-A, bangku-bangku kuliah menunggu mahasiswa-mahasiswinya menimba lautan titian ilmu yang melimpah. Hampir semua matkulnya berisikan pengasahan berpikir kritis, menciptakan ruang gerak serta kemungkinan terburuk hingga beberapa dasawarsa kedepan. Studi perpetaan baik esri maupun sobek serta studio proses hingga kota serasa seperti merencanakan sebuah strategi pertempuran, yakni pertempuran melawan kerusakan kota, wilayah dan manusianya.
sumber : http://www.pl.itb.ac.id/?p=664
Lewat pembiasaan yang seitensif baik secara internal maupun eksternal, baik secara moril maupun materiil tatanan reflek pasti akan tercipta. Mempelajari hal-hal baru tiap hari dan menghadapi permasalahan baru baik konvensional maupun milenial, tanpa sadar concepting skill sudah kita kantongi sejak Integrasi hari pertama silam. Berharap benar-benar menjadi kesempatan emas bagi kami tuk mengeksplorasi intrik permasalahan yang lebih kompleks dan rumit.
Mengonsep dalam konteks perencanaan bersifat mendalam dan lentur, bak bor hidrolik untuk me-flare up minyak mentah dari sebuah reservoir. Setiap lapisan struktur tanahnya tentu memiliki konteks yang berbeda-beda, baik tringensitas, salinitas, maupun vikositasnya.
Sebuah kemampuan yang mungkin tidak dapat dilakukan normal dalam 2–3 tahun namun kita berhasil dituntut untuk mengolaborasikan ketiga skill tersebut dalam kurun waktu singkat dan padat sekaligus, amazing.
Bermacam diskusi grup, forum online dan pesta jurnalistik mungkin hanya sebagian kecil dari pola pembelajaran keilmuan yang berkelanjutan. Kupikir input kita semua sudahlah bagus, layaknya supra komputer dengan berbagai komponen spek dewanya. Namun sayangnya tidak semua komputer tersebut berisi perangkat lunak yang dewa juga, sehingga tidak dapat termaksimalkan. Tiga skil diatas dapat menjadi sebuah batu loncatan untuk selalu men-trigger perangkat-perangkat lunak tersebut.
As addition, sebenarnya ada satu skil lagi yang membuat kita nampak berbeda sebagai para calon S.T. yang lain. Yaitu setiap dari kita di desain untuk dapat siap menjadi leader di manapun dan kapanpun. Melengkapi ketiga skill “basic” yang telah kita semua dapatkan sebelumnya. Memang sejak awal visi misi yang diusung berujung pada kesiapan setiap SDM untuk menjadi leader. Hal inipun ditunjang dengan penyediaan logistik serta suprastruktur yang menyetel dengan karakter mahasiswanya. Secara afektif tiap individu juga mendapat desakan persaingan yang kuat di setiap detiknya, baik berpacu dengan individu lain, maupun dengan masalah-masalah yang coba diciptakan sendiri.
Sebagai harapan, multidisiplin kemampuan ini sebenarnya dapat unggul telak 250% atau lebih. Namun sebenarnya tiap individu itu sendiri yang kurang dapat memegang komitmen untuk mencoba mengambil porsi lebih besar dalam peran nyata, sehingga kemampuan tersebut kurang dapat terlihat secara kasat mata. Khawatirnya justru menjadi petaka bagi skup yang lebih luas. — RM

Jumat, 21 Juli 2017

Secercah Puji Bagi Kami, Mahasiswa Planologi

Detik berlalu, teringat terakhir kali pilihan kita yang tak menentu, penat bimbang yang menghujani malam-malam itu, menyisakan langkah awal penentu perjuangan yang ‘mungkin’ masih dapat dibanggakan.
Tak khayal pilihan itu telah sampai pada kapiler darah kita, beberapa mungkin meninggalkan sisa kepedihan, namun hanya yang tegar dan ikhlas yang akan bertahan. Semuanya berhak untuk setia pada pilihannya, bak medan magnet yang setia tegak lurus pada medan listriknya.
Kini semua melebur, menyatu mendarah daging menjadi keluarga baru. Isak tangis mungkin terdengar dari mendiang perasaan yang terdalam. Aku terharu, teringat berat langkah yang tiap hari coba kita tinggalkan, keluarga di kampung halaman yang merindukan, serta para sahabat yang rela kita korbankan, demi segala impian yang kita dambakan.
Tibalah suatu masa saat sungai-sungai masyarakat murba menjadi kering, sunyi, haus akan balutan lentik jemari kita. Tak mungkin kita dapat berpaling dari bayi-bayi yang merengek di pelukan ibundanya, dari ayah yang terbakar habis punggung dan dahinya.
Detik ini mungkin menjadi saksi bagi kami, mahasiswa Teknik Planologi, yang kemarin sore bermuram durja dihantam tebasan mafiki. The hero is coming, struggling for better society, Tak ada lagi karang pembatas bagi kami tuk terjun ke lautan lepas.
Puji syukur tentu layak dihanturkan untuk memulai pelayaran akbar ini, lautan yang ganas dan amat luas, tentu menunggu kami untuk dijelajahi. Bermodal putra-putri terbaik saat ini, kupikir kita masih bisa berbicara cukup banyak sebagai pelaut-pelaut barat.
Ribuan serdadu perang rela mati, demi generasi baru yang terbaik. Tanpa orang-orang yang terukir namanya di Taman Makam Pahlawan, mustahil rasanya kita masih bisa melakukan pesta organisasi layaknya sekarang. Barangsiapa menghendaki kemerdekaan bagi orang lain, maka haruslah siap kemerdekaan dirinya diambil — Tan Malaka.
Suara-suara perubahan menunggu kita untuk bergerak, menyatukan advokasi dan terus mendobrak. Terbentur, terbentur, terbentur dan akhirnya terbentuk. Mungkin diri ini masih lemah, bak batang sawi yang tak berarwah. Namun seringkali kita lupa, bahwa kita tidak berdiri sendiri, jeruji-jeruji merah siap menopangmu menghantam dan meluluhlantahkan kesewenang-wenangan.
http://www.africa.undp.org/content/rba/en/home/ourwork/povertyreduction/poverty-reduction.html
Ilmu dan kemampuan, hanyalah modal awal pemrodukan. Namun, Pengabdian dan pengorbanan adalah cikal bakal perubahan. Ya mungkin seperti itulah, lembaran buku hanyalah abu bila ia tak bisa diaplikasikan. Kajian-kajian hanyalah candu bila tak terimplementasikan.
Kupikir semua yang ada sekarang haruslah siap, memiliki mata yang akan terjaga lebih lama, memiliki kulit yang akan tahan lebih dingin, memiliki hati yang akan lebih santun untuk mengasihi dan memiliki lisan yang akan lebih ringan untuk berdoa.
Mereka akan takut akan karya-karya kita, silau akan kontribusi kita, malu akan pengorbanan kita. Kutulis ini semua karena aku tahu, bahwa kita semua mampu dan mau, untuk saling mengajarkan dan diajarkan. We will there, until the stars don’t shine, until the heaven burst, and the words don’t rhyme.
Masyarakat menunggu, menghantarkan harapan pada ibu pertiwi. Harapan yang memanggil kami, mahasiswa-mahasiwi teknik planologi. Kuangkat tiang perubahan, genderang pun engkau dendangkan, demi terwujudnya spirit perubahan yang berkelanjutan.
Labtek IX-A, tempat lidah rakyat bersua. Mencoba mengajarkan pada kalian, bahwa di luar sana masih banyak yang membutuhkan uluran tangan. Untaian harapan mereka, janganlah kalian sia-siakan. Aku yakin armada ini berisikan para awak terbaik, yang tak rela masyarakatnya dianiaya, yang tak akan diam melihat bangsa diinjak semena-mena.
Kapal ini kan terus melaju, melontarkan guratan teknologi dan ilmu pengetahuan. Menerjang deru badai penindasan, menebarkan senyuman bak mata air pegunungan. Hempasan meriamnya kan memutus mata rantai kemiskinan, dan setiap derap layarnya kan senantiasa menghembuskan nafas perubahan.
Persaingan memang lumrah, layaknya putih tulang dan merah darah. Namun, hukum alam akan berbicara siapa yang layak menjadi juara. Maukah kamu menjadi juara itu?, Kutunggu dirimu..
Salam dari kami, mahasiswa teknik planologi — RM

Senin, 17 Juli 2017

Jembatan Kesenjangan, Agropolitan Preferensi Unggulan

Konsekuensi logis dari terbentuknya proses institusionalisasi di masyarakat yang majemuk, seperti bangsa ini adalah dorongan untuk selalu memenuhi tatanan kebutuhan yang tinggi. Hal ini sebenernya sudah jauh ada sebelum Maslow lahir dan menciptakan ‘piramida’nya. Begitupun masyarakat mikro yang milenial di Indonesia saat ini, tentu tak ingin merasakan ketertinggalan baik dalam elemen fisik maupun non fisik.
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017
Secara alamiah dinamika manusia hakekatnya akan melakukan proses pengembangan kehidupan, yakni merupakan upaya untuk memberi nilai tambah dari apa yang dimiliki untuk meningkatkan kualitas hidup dan meningkatakan kekayaan baik secara individu maupun kelompok. Hal tersebut tidak berarti bahwa kekayaan itu tidak relevan. Pengembangan juga merupakan produk belajar, bukan hasil. “Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.- Tan Malaka”. Keadaan yang saya maksud disini adalah hasrat manusia untuk mencari keuntungan tertinggi, kenikmatan terbesar serta kemapanan termudah.
Adapun potensi yang dapat dikembangkan masyarakat adalah kemampuan produksi, yaitu belajar mendayagunakan kemampuan yang dimiliki dan bersandar pada lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hasil yang dapat di peroleh dari proses tersebut, yaitu kualitas hidup integratif yang akan dipengaruhi oleh instrumen yang digunakan tiap generasi. Sehingga pengembangan wilayah seharusnya dapat memberdayakan suatu wilayah, terutama pemanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan di wilayah tersebut.
Potensi seperti ini sangat mungkin dilakukan dan diimplementasikan pada stuktur pedesaan yang progresif, yaitu suatu sistem peredaran ekonomi pedesaan yang menunjang pembangunan (salah satunya) pertanian dengan masyarakat secara luas dan komprehensif. Contoh yang sering saya temui adalah kota di dekat tempat tinggal saya, yakni Kota Batu yang dahulunya kabupaten yang tak terbedayakan.
Sebenarnya konsep agropolitan ditujukan sebagai solusi atas terjadinya pembangunan yang tidak berimbang antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Jangan sampai lagi kalau — kalau terjadi pembangunan nasional yang berorientasi kepada industrialisasi yang dapat menginspirasikan terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan di perkotaan secara serampangan. Perekonmian desa apalagi yang belum dapat mandiri sepenuhnya akan menimbulkan proses penetesan pembangunan (trickle down process) dan pemerataan pertumbuhan ke daerah-daerah belakang (hinterland), hal ini justru akan banyak membawa perpecahan antara penguasa modal dan SDM. Pengurasan sumberdaya yang dimiliki daerah oleh pusat secara besar-besaran (backwash effect) juga akan secara kontinyu menyebabkan terjadinya ketimpangan dalam keterkaitan desa-kota karena adanya kecenderungan pengurasan sumberdaya (resources) oleh kota terhadap desa.
Hampir saja kita lalai, bahwa bangsa ini rentan akan pembangunan yang tidak berkelanjutan karena tidak konsisten dan dirancang tidak bersama masyarakat sebagai stake-holder, menyedihkan memang. Kemampuan masyarakat yang sangat terbatas sebagai stake-holder masyarakat dalam proses demokrasi juga akan menghambat pembentukan kota-kota tani dalam konsep Agropolitan berjangka panjang. Disisi lain, pembentukan Agropolitan yang ada dalam kurun waktu belakangan juga terkendala skala usaha agro-bisnis mengingat program Agropolitan tidak hanya perluasan dari pengelolaan perwilayahan komoditas pertanian namun, diperlukan integrasi kebijakan antar pemerintahan, antar sektor sampai ke akar masyarakat secara holistik (idealnya).
Proses yang dilakukan secara sederhana adalah dengan cara mengubah daerah pedesaan dengan cara memperkenalkan unsur-unsur gaya hidup kota (urbanisme) yang telah disesuaikan pada lingkungan pedesaan tertentu. Ini berarti tidak lagi mendorong perpindahan penduduk desa ke kota ataupun sebaliknya, tetapi mendorong mereka tetap tinggal di tempat, dengan menanamkan modal di daerah pedesaan tersebut dan memberdayakan secara kontekstual dengan basis keseimbangan.
Salah satu output yang diharapkan adalah dapat mengubah tempat pemukiman yang sekarang ini untuk dijadikan suatu bentuk campuran yang dinamakan agropolis atau “kota di ladang”. Tujuan fungsional program Agropolitan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan keterkaitan desa dan kota secara seimbang (urban-rural balancing). Dengan demikian tidak hanya masyarakat yang mengalami perubahan secara seimbang, namun juga alam.
Mengingat segala potret potensi dari pedesaan yang progresif yang masih tersebar cukup normal di sebagaian pulau sumatra dan Jawa — Bali, idealnya Agropolitan dapat menjembatani produksi si konvensional dan progresif, si murba dan si premium, serta si domestik dan si moderat. Niscaya akan ada jalan perubahan bila tiap nafas memiliki kemauan yang kuat.
Tentunya dengan adanya informasi dan data yang tersedia pada pasar komoditas pertanian dari kota sampai ke desa-desa hinterland (Suatu daerah yang berfungsi sebagai pemasok dan pemenuhan kebutuhan bahan makanan pokok serta tempat produksi komoditi eksport) maka akan mempercepat laju penetrasi ekonomi regional, syukur-sukur bisa menembus pasar global.
Selain itu rakyat dari kedua belah desa/kota mendapatkan kemudahan dari desa-desa hinterland untuk mencapai kota pertanian (desa pusat pertumbuhan) dan kota-kota lain di luar kawasan agropolitan, tentu masyarakat dapat menyiapkan proyek ekonomi padat karya karena pasokan sumber daya yang melimpah. Seperti halnya dengan adanya produk industri rumah tangga yang beridentitas yang dijual ke kota pertanian (desa pusat pertumbuhan) dan kota-kota lain di luar kawasan agropolitan.
Petani konvensional yang sebelumnya murung karena panen muda dan distributor yang krisis kepercayaan kini dapat tersenyum karena petani dan pedagang pengumpul memilih kota pertanian (desa pusat pertumbuhan) dan kota-kota lain di luar kawasan agropolitan sebagai tujuan pemasaran, hal ini sebenarnya adalah konsekuensi dari teorema aglomerasi sosial.
Perlu diingat pula dalam kepala bahwa setiap pilihan akan memunculkan konsekuensi lainnya, begitupun pilihan pengambilan sikap dan sistem. Keseimbangan ini juga akan berpotensi patah apabila setiap pemeran sektor tidak komitmen untuk mengukir sejarah pembangunan. Persiapan sumber daya fisik dan non fisik haruslah disiapkan secara matang agar perencanaan proyek Agropolitan dapat berkelanjutan, sebagai contoh saja bahwa di daerah Kabupaten Cianjur Jabar, danau sedalam 20–25 meter yang terbentuk dari sisa kegiatan penambangan pasir besi di desa non agropolitan Cikahuripan kecamatan Gekbrong malah menimbulkan masalah baru. Masih ada 6 lubang bekas galian yang cukup besar dan kini dibiarkan menjadi danau (balong) tak terberdayakan yang mengindikasikan adanya kerusakan lingkungan dan justru mereduksi produktivitas desa. — RM
Pustaka terkait :
Fauzi, Noer (et al), 2003, Otonomi Daerah Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Yogyakarta, Lapera Pustaka Utama
Membangun Agribisnis Berbasis Kerakyatan, Majalah Kapital, Jakarta, Volume III/19, Nopember, 2002
Smith, BC., 1985, Desentralization, The Territorial Dimention of The State, London : George Allen & Unwin

Selasa, 03 Januari 2017

Terminologi-Terminologi Mendasar dalam Perencanaan Kota

Pengertian Kota,Perkotaan, Kawasan Perkotaan

terminologi-terminologi mendasar dalam perencanaan kota

n  Tempat dimana konsentrasi penduduk lebih padat dari wilayah sekitarnya karena terjadinya pemusatan kegiatan fungsional yang berkaitan dengan kegiatan atau  aktivitas penduduknya.
n  Permukiman yang mempunyai berpenduduk relatif besar, luas areal terbatas, pada umumnya bersifat non-agraris, kepadatan penduduk relatif tinggi (Kamus Tata Ruang)
n  Tempat sekelompok orang-orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal dalam suatu wilayah geografis tertentu, cenderung berpola hubungan rasional, ekonomis dan individualistis.
n  Pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundangan, serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan (Pemendagri No. 2/1987).
n  Kota sebagai Daerah Otonom (>< Kabupaten)



        Definisi Kota Menurut JAMAN

            Pra Renaissance:
-  Kota merupakan pemusatan permukiman yang  merupakan    
   tempat kedudukan pusat kekuasaan (raja, kaisar, bangsawan)
-  Permukiman bagi rakyat kecil yang mendapat perlindungan dari   
   penguasa setempat

Renaissance:
            Kota merupakan lokasi tempat terjadi tukar menukar produksi  
antara produsen, konsumen dan para tengkulak, dimana meru-
pakan lokasi strategis (tepi laut, persimpangan,titik pergantian angkutan)

            Revolusi Industri:
-  Pengertian kota didasarkan pada jumlah penduduknya
-  Hal ini dikaitkan dengan banyaknya penemuan teknologi yang menimbulkan arus urbanisasi dan pemusatan  penduduk

            Tradisional:
-  Suatu permukiman permanen dengan kepadatan tinggi dan 
   relatif luas yang dihuni oleh individu-individu yang secara
   sosial heterogen

Modern:
Kota dilihat dari 
            - kriteria penyediaan fasilitas umum dan sosial,
            - kriteria status administrasinya 
            - pola tata cara kehidupan masyarakatnya 




LINGKUP
PENGERTIAN KOTA
Fisik
Suatu wilayah dengan wilayah terbangun (buit up area) yang lebih padat dibandingkan dengan area sekitarnya
Demografis
Wilayah dimana terdapat konsentrasi penduduk yang dicerminkan oleh jumlah dan tingkat kepadatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keadaan di wilayah sekitarnya
Sosial
Suatu wilayah dimana terdapat kelmpok-kelompok sosial
masyarakat yang heterogen (tradisional – modern, formal
informal, maju – terbelakang, dsb)
Geografis
Suatu wilayah dengan wilayah terbangun yang lebih padat dibandingkan dengan area sekitarnya

LINGKUP
PENGERTIAN KOTA
Statistik
Suatu wilayah yang secara statistik besaran atau ukuran jumlah penduduknya sesuai dengan batasan atau ukuran untuk kriteria kota
Ekonomi
Suatu wilayah dimana terdapat kegiatan usaha yang sangat beragam dengan dominasi di sektor non pertanian, seperti perdagangan, perindustrian, pelayanan jasa, perkantoran, pengangkutan, dll
Administrasi
Suatu wilayah yang dibatasi oleh suatu garis batas
kewenangan administrasi pemerintah yang ditetapkan
berdasarkan peraturan perundang-undangan tertentu
   
KOTA DITINJAU SECARA FISIK :

-  Merupakan wilayah terbangun yang terletak saling   
   berdekatan/ terkonsentrasi, yang meluas dari pusatnya hingga
   ke daerah pinggiran kota
-  Wilayah yang didominasi oleh struktur binaan
-          Terdiri dari      :
a.       bangunan-bangunan dan kegiatan-kegiatan yang berada di permukaan tanah,
     atau dekat dengan muka tanah
b. instalasi-instalasi di bawah permukaan tanah
c. kegiatan-kegiatan di dalam ruangan kosong di angkasa

Unsur-unsur yang mempengaruhi Fisik Kota :

  1. TOPOGRAFI TAPAK
  2. BANGUNAN
  3. STRUKTUR (bukan bangunan)
    1. Jalur-jalur transportasi
    2. Jaringan utilitas (air bersih, air kotor/drainase, listrik, telekomunikasi)
à Keduanya membentuk pola penggunaan lahan
  1. RUANG TERBUKA
  2. KEPADATAN, dipengaruhi oleh:
    1. Persentase KDB
    2. KLB/ ketinggian bangunan
    3. Kuantitas Ruang Terbuka / KDH
  3. IKLIM
  4. VEGETASI
  5. KUALITAS ESTETIKA

KOTA DITINJAU SECARA SOSIAL

-   Merupakan konsentrasi penduduk yang membentuk suatu komunitas yang pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas melalui konsentrasi dan spesialisasi tenaga kerja dan meningkatkan adanya diversitas intelektual, kebudayaan dan kegiatan rekreatif di kota-kota
-    Spek yang berpengaruh:
a.   Besaran dan Komposisi penduduk
b.   Keruangan
   KOTA DITINJAU SECARA EKONOMI  
-    Memiliki fungsi sebagai penghasil produksi barang dan jasa,
     untuk mendukung kehidupan penduduknya.      
-    Ekonomi perkotaan dapat ditinjau dari 3 bagian:
      a.  Ekonomi Pemerintahan
      b.  Ekonomi Swasta
      c.  Ekonomi Khusus
Definisi Perkotaan (= Urban)
[Kawasan Perkotaan]

n  Daerah permukiman yang meliputi kota induk dan daerah pengaruh di luar batas administratif nya yang berupa daerah pinggiran sekitarnya/ daerah suburban.
n  Kawasan Perkotaan (>< Kawasan Perdesaan)
       Kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi (UUPR 92).
n  Kawasan Perkotaan adalah aglomerasi kota-kota dengan daerah sekitarnya yang memiliki sifat kekotaan; dapat melebihi batas politik/administrasi dari kota yang bersangkutan

Definisi Penduduk Perkotaan 
          (BPS,  Sensus 1980)


Kriteria definisi optimal DESA-URBAN
  Kepadatan penduduk : suatu desa dengan kepadatan penduduk 5000 orang per-km2 didefinisikan sbg kota
      Persen rumah tangga pertanian : suatu desa yang kurang dari 25 % rumah tangganya berusaha dalam bidang pertanian, didefinisikan sebagai kota
      Jumlah fasilitas kota : suatu desa yang memiliki 8 atau lebih jenis fasilitas (dari maksimum 14: kend. umum bermotor, bioskop, SD, SLP, SLA, klinik, klinik bersalin, puskesmas, kantor pos, bank, pasar tertutup, daerah pertokoan, asrama atau hotel, dan tempat penyewaan alat pesta) didefinisikan sebagai kota.
      Dalam praktek : sukar untuk menerapkan kriteria tersebut secara dogmatis,
      à        Dikembangkan metodologi kombinasi berdasarkan 3 kriteria
Nilai ranking 1 – 10 untuk tiap kriteria
> 23                 : desa Urban
17 – 23            : desa marginal
<  17                : desa Rural

AGLOMERASI DESA URBAN DI METROPOLITAN BANDUNG
 



n  Kawasan perkotaan (KP) :
n  KP berstatus administratif Daerah Kota
n  KP yang merupakan bagian dari Daerah Kabupaten
n  KP Baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah kawasan perdesaan menjadi KP
n  KP yang mempunyai bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan
n     BEBERAPA TERMINOLOGI YANG TERKAIT DENGAN KOTA
1.   NEW TOWN (KOTA BARU)
q  Gejala yang terjadi pada abad 19, merupakan hasil penukaran dari perencanaan kota komprehensif dengan tingkat kemandirian yang didasari pada pembangunan sektor ekonomi (tempat kerja)    
q  Merupakan pemecahan masalah kota yang menyangkut redistribusi penduduk ke wilayah sekitarnya yang lebih nyaman untuk tempat tinggal    
q  Pertama kali diperkenalkan di Inggris (dengan konsep The Garden City)    
2.   PRIMATE CITY
q  Kota Unggulan/Utama
q  Suatu kota dalam sebuah negara yang ukuran ( jumlah penduduknya ) jauh lebih besar dari kota kedua terbesar di negara tersebut; banyak ditemukan terutama di negara-negara berkembang
3.   METROPOLIS/METROPOLITAN
q  Merupakan ibukota suatu negara, propinsi atau daerah
q  Dapat juga dipakai sebagai sebutan untuk Kota Besar
4.   METROPOLITAN AREA
q  Keseluruhan dari pusat dan daerah pinggiran kota serta daerah sekitarnya (kota dan desa) yang masih terikat dan dipengaruhi oleh kota tersebut.
5.   BOOM TOWN
q  Merupakan suatu kota yang bukan termasuk metropolitan dan tumbuh karena adanya potensi / SDA / kegiatan yang menyebabkan terjadi perkembangan secara mendadak.
q  Di Amerika, boom towns terjadi karena “energi” (Energy Related Project).
q  Contoh di Indonesia : Bontang, Dumai, Lhoksumawe, Suralaya
q  Fase dalam Boom Towns :
Fase 1 : berkembang karena datangnya orang-orang                   
                       untuk mengembangkan potensi yang ada (yang
                       sifatnya sementara.
            Fase 2 : datangnya orang-orang yang akan tinggal
                       permanen. Orang-orang inilah yang kemudian
                       memelihara kota dan menyebabkan timbulnya
                       kegiatan ekonomi baru
6.   KOTA NON METROPOLITAN
q  Kota-kota kecil yang berkembang karena urban population yang membutuhkan lahan yang luas
q  Terjadi di Amerika pada tahun 1970-an
q  Non Metropolitan terjadi karena :
            1. “Reversal” (kembali lagi) dari metropolitan ke rural area
           (urbanisasi)
            2. “Spill over” (tumpahan/luberan) dari metropolitan
            3.  “Retirement” orang-orang yang mencari ketenangan /
           kenyamanan di kota-kota kecil
7.   SOCIALIZE CITY
q  Di negara sosialis
q  Tidak ada kepemilikan lahan oleh individu.
8.   CONURBATION
q  Merupakan perkembangan lanjutan dari suatu kota, yaitu pada saat mulai bergabungnya satu kota dengan kota-kota lainnya di daerah sekitarnya
q  Conurbation tidak harus disertai oleh penggabungan secara politis (administrasi)
q  Gejala tersebut dapat terjadi oleh adanya suatu koridor transportasi utama antara 2 kota atau lebih
9.   SUPER CONURBATION / MEGALOPOLIS
q  Adalah conurbation raksasa dengan penduduk paling sedikit 12 juta jiwa

n  Wilayah (UU 26/2007 ttg Penataan Ruang):
   Merupakan suatu kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya, yg batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrasi dan atau aspek fungsional
    Secara konsepsual terdiri dari wilayah homogen, nodal, administratif  dan wilayah perencanaan
   Wilayah yg bersifat fungsional sering digunakan terminologi Kawasan
  
PERENCANAAN

n  Perencanaan adalah proses yang kontinyu, yang menyangkut pengambilan keputusan atau pilihan mengenai bagaimana memanfaatkan sumberdaya yang ada semaksimal mungkin guna mencapai tujuan-tujuan tertentu di masa depan
n  Suatu rangkaian kerja untuk merumuskan sesuatu yang didasari
            oleh suatu pola tindakan yang definitif, yang menurut
            pertimbangan yang sistematis akan dapat membawa keuntungan
            tetapi dengan anggapan bahwa akan ada tindakan selanjutnya
            yang akan merupakan kegiatan sistematis lainnya.\
n  Perencanaan Kota : Kegiatan penyusunan rencana kota, yang dimaksudkan untuk mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan kehidupan dan penghidupan masyarakat kota dalam mencapai kesejahteraan

PRINSIP PERENCANAAN :

n  Pengambilan keputusan untuk menentukan pilihan
n  Suatu penetapan pengagihan sumber daya (resources allocation)
n  Suatu penetapan dan usaha pencapaian sasaran dan tujuan pembangunan (setting up goals and objectives)
n  Suatu pencapaian keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang, yaitu:
            a. dapat membuat perkiraan yang baik dan menjabarkannya dalam
         suatu penjadwalan yang berurutan (sequential) sesuai dengan
         kebutuhan dan sumber daya yang mendukungnya
     b. Pelaksanaan pentahapan untuk mencapai tujuan masa mendatang
         disusun dalam urutan kegiatan yang logis, rasional dan tertata
         secara bertahap, berurutan.

       UNSUR – UNSUR RENCANA :

n  Unsur keinginan, cita-cita
n  Unsur tujuan dan motivasi
n  Unsur sumber daya (alam, manusia, modal dan informasi)
n  Unsur upaya hasil guna dan daya guna
n  Unsur ruang dan waktu

Faktor yang berpengaruh dalam Perencanaan :

n  Landasan filsafah dan Ideologi
n  Motivasi dan tujuan yang merupakan dasar kebijaksanaan
n  Sumber daya alam, manusia, modal dan informasi
n  Teknologi dan Ilmu Pengetahuan
n  Personil trampil
n  Ruang dan waktu

Syarat – syarat suatu Rencana :

n  Logis, masuk akal, harus dapat dimengerti
n  Luwes (flexible), mampu mengikuti arus/perkembangan
n  Objektif dalam arti menyangkut kepentingan umum maupun tertentu
n  Memperhatikan kendala dan limitasi baik fisik maupun sosial
n  Merupakan proses yang terjadi terus menerus

Perkembangan Perencanaan :

n  Pada mulanya dikaitkan dengan pekerjaan yang menghasilkan
n  produk fisik yang statis  (lebih ditekankan pada perencanaan fisik dan estetika)
n  Rencana merupakan perumusan cita-cita/keinginan masa yang akan datang yang lebih terbatas (mikro)


Pada perkembangannya, perencanaan dihubungkan dengan upaya untuk merumuskan cita-cita dalam arti yang lebih baik di masa yang akan datang
Rencana merupakan rumusan keinginan/cita-cita yang lingkupnya menyeluruh dan luas







Popular Posts

Blogger templates

Hak cipta hanya milik ALLAH. Diberdayakan oleh Blogger.

Komentar

Gunakanlah Bahasa yang santun dan bersifat membangun, terimakasih :)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Paling Dilihat