Surat
Hujan deras, tak terhentikan hingga petang. Secarik surat berterbaran mencari para tuannya. Derap langkah kuda-kuda perang masih terderung ramai di telingaku. Hingga lama aku berlari, tiada walau rintik cahaya bulan menembus relung-relung kota.
Mungkin era sudah bersabda, mendepak mereka-mereka yang lemah dan lunglai. Tahukan kamu? Oh jelas saya tahu. Bahkan nenek sayapun tahu kalau surat...